Kalau belum siap, kenapa sampai sejauh ini?
Pertanyaan ini terus terusan berputar di kepala aku selama 2 minggu terakhir ini. Iya, semenjak kita putuskan buat pisah.
Dari semua janji janji dan harapan yang kamu kasih ke aku, pada akhirnya kamu nyerah dengan statement "orang tua yang ga restuin karena aku orang tangerang". Yaps, pernyataan tidak bertanggung jawab itu yang akhirnya kamu keluarkan.
Bahkan orang tua mu pun belum sempat kenalan secara personal dengan aku. Dan kamu pun ga ada usaha lebih keras untuk mempertemukan kami. Aku ga masalah kalo emang setelah ketemu dan kenal, ada beberapa kepribadian aku yang mungkin ga bisa ditolerir oleh orang tua mu. Atau bahkan kamu sebagai pasangan aku. Penolakan ini lebih fair, kalo memang aku terlalu keras kepala untuk merubah suatu sikap jelek ku. Tapi.. alasan karena aku orang tangerang, atau bukan orang yang sekampung dengan kamu adalah jawaban terbodoh dan tidak bertanggung jawab yang keluar dari mulut laki laki yang pernah aku harapankan bisa hidup bersama sampai tua. Maksud aku, aku ga bisa merubah aku dilahirkan dimana, dilahirkan dari suku mana, itu semua ketentuan yang sudah ditakdirkan. Sangat subjektif dan sengaja mencari cari alasan untuk menutupi ketidak percayaan diri kalian.
Kenapa kalian? Yaa orang tua memang punya andil dalam menentukan tindakan anaknya. Tetapi anak dengan usia yg sudah dewasa juga harusnya punya akal dan pikiran untuk mencerna semua omongan orang tua. Memilah apakah itu benar atau salah? Aku ga bilang alasan orang tua mu salah, mungkin ada benarnya. Tapi dengan apa yang telah kamu pilih, kamu lakukan untuk jalanin sama aku selama 4 tahun aku rasa, aku berhak untuk meminta usaha kamu dalam mempertahankan dan memberi alasan logis kepada orang tua mu.
Semua punya trauma dalam kehidupannya, orang tua mu, orang tua ku, aku, kamu. Aku hidup dikeluarga yang terlihat harmonis, tapi jika dikaji ke dalam kami tidak sedekat itu dalam sisi personal. Aku tidak dekat dengan ibu atau pun ayah ku. Mungkin kalau ditarik runut ke belakang, ayah sosok emosional dalam keluarga. Saat kecil aku sering dipukul jika salah, tidak dipuji jika benar. Ibu juga tidak membela, bahkan kerap ikut memukul atau mencubit jika ada kesalahan. Mungkin ini yang membuat aku mudah memberikan cinta kepada orang lain di luar sana. Mudah dekat dengan orang secara personal. Orang menilai ku cukup ramah, bahkan kadang kelewat baik bagai ibu peri. Semua itu ada alasannya, aku takut jika aku tidak baik tidak memberikan sepenuhnya cintaku orang orang akan pergi dari ku. Aku haus kasih sayang, tangki cintaku sejak kecil tak pernah penuh. Mangkanya saat dewasa, aku mencarinya di luar dan salah satunya menemukan kamu.
Aku terlihat sempurna kan dimatamu? Aku terlalu baik katamu. Itulah salah satu alasannya, kalo kamu mau tau.
Dan kamu dengan trauma mu juga. Ditinggal ibu dari kecil memang berat, aku ga pernah merasakan, tapi aku cukup paham rasanya menyakitkan. Trauma bapak mungkin bisa dibilang gagal dalam pernikahan, juga membuat kamu membatasi sisi personal kamu ke siapa pun itu. Termasuk aku.
Sering kali kamu menutup jarak antara kamu dan orang lain, tapi kalau orang lain menjauh dan ga melihat kehadiran kamu, kamu merasa dikucilkan. Serba salah sering muncul dalam hubungan kamu, ke aku ke teman teman kamu juga.
Aku, kamu sama sama hidup dengan trauma yg orang tua berikan. Aku takut kehilangan, mangkanya aku berusaha menjadi yang terbaik dan ingin memiliki hubungan yang aman penuh komitmen. Kamu pun sama, sama sama takut kehilangan, tapi perspektif kita beda. Kamu takut, karena itu kamu memilih jaga jarak dan menutup diri untuk mengindari duka atau kehilangan seseorang. Kamu takut komitmen.
Selain trauma ada faktor faktor dalam diri kita juga yang membuat kita akhirnya ga sejalan. Kamu masih muda, kamu masih mau bebas. Usia ku cukup matang, bahkan mungkin terlambat menurut perspektif secara umum, aku suka komitmen yang jelas.
Padahal kalau dirunut dengan jelas, aku ga pernah membatasi kamu untuk berkarya, mencari teman, bahkan bermain. Asalkan sebelumnya kamu memang dalam keadaan yang oke (dari segi kesehatan, waktu). Aku ga akan batasin kamu tanpa alasan yang logis. Aku selalu dukung apapun yang membuat kamu bahagia. Bahkan aku sempat bermimpi, kalau nikah nanti aku mau ikut semua kegiatan hobby kamu, salah satunya aku mau nonton konser sama kamu. Seperti yang kamu tau, aku suka konser tapi aku kehalang jam pulang malam. Tapi mimpi hanya mimpi, mungkin nanti bisa aku wujudkan kelak. Entah sama kamu, atau orang lain yang lebih bisa menerima ku.
Dari penjelasan sepanjang ini kalo kamu baca kamu bisa tarik kesimpulan kah? Kalau belum paham sini aku jelaskan.
Setiap orang tumbuh dengan trauma masing masing. Setiap perlakuan yang kita lakukan dan terima punya konsekuensi dan berdasarkan pengalaman masa lalu tanpa disadari. Apa yang kamu dan orang tua kamu lakukan bisa jadi menciptakan trauma baru untuk aku. Seorang wanita yang sedang berusaha berdiri kokoh, menyembuhkan trauma trauma masa kecilnya sendiri. Aku berusaha sembuh dari kejamnya lingkungan terhadap persepsi wanita dewasa yang belum menikah. Sembuh dari trauma perlakuan orang tua. Bahkan sekarang harus belajar kembali menata hati yang kusut, harapan terakhir di detik detik usia mencapai kepala 3. Usaha usaha dan mimpi yang aku bangun 4 tahun sama kamu terasa sia sia semua. Dan kepercayaan diri untuk nantinya diterima dengan lelaki dan keluargnya pasangan ku kelak.
Aku ga menyesal sudah maksimal mencintai kamu. Tapi aku berdoa semoga kelak kalau aku diberikan kesempatan untuk menikah dan memiliki anak perempuan, semoga anakku tidak pernah bertemu lelaki seperti kamu. Cukup trauma ini putus dan meninggalkan luka besar di diri aku saja.
Aku doakan juga, semoga kelak ada wanita beruntung yang mampu kamu cintai sepenuh hati dengan komitmen yang bertanggung jawab. Sembuhkan diri kamu dari trauma trauma, dari pikiran negatif yang belum tentu terjadi. Antisipasi itu dipikirkan dengan logika, bukan dengan ketakutan ketakutan yang kamu ciptakan sendiri.