Sebenarnya apa sih yang dinamakan kehilangan? Bagaimana rasanya? Bagaimana bentuknya?
Setiap orang pasti pernah merasakan kehilangan. Mulai dari yang sederhana seperti, kehilangan barang kesayangan. Sampai ke yang lebih kompleks, yaitu kehilangan seseorang yang kita sayangi baik itu belahan jiwa atau orang tua maupun sanak saudara. Tak ada yang tahu persis kapan saatnya kita merasakan kehilangan. Sedikit cerita, bulan Juli nanti tepat 3 tahun tante saya meninggal. Saat dikabarkan berita duka, saya merasa mungkin ini yang terbaik untuk tante saya. Pelan-pelan saya belajar mengikhlaskan. Tapi ketika saya melihat jasad tante dengan mata kepala sendiri, pertahan pun lepas. Lemas, saya pun duduk disebelah jasad sambil tersedu. Entah, tak bisa saya gambarkan perasaan saya saat itu. Ada perasaan perih didada ketika menyaksikan seseorang yang saya cintai kini telah tiada. Setiap mengingat kenangan bersama beliau, sampai sekarang pun rasanya dada saya sesak. Belum benar-benar bisa melupakan, karena menurut saya tak perlu dilupakan cukup kita ingat kenangan indah bersamanya itu pun dapat kita jadikan obat rindu yang mujarab.
Rasa kehilangan memang identik dengan meninggalnya seseorang. Tapi ada juga rasa kehilangan ketika kita dipisahkan jarak yang cukup jauh atau "jarak" lainnya. Jarak. Banyak pasangan yang akhirnya dikalahkan oleh jarak. Tapi tak sedikit juga yang berhasil mengalahkan jarak. Tapi, jika jarak yang dimaksud adalah dalam tanda kutip? Misalnya saja, ada seorang laki-laki dan seorang perempuan bersahabat. Mereka sangat akrab, setiap hari mereka habiskan waktu bersama. Tapi, ketika salah satu dari mereka memiliki pasangan. Pastilah muncul "jarak" antara jalinan persahabatan ini. Tak bisa dicegah memang, karena ini adalah hal manusiawi. Didalam hidup kita harus memilih. Tapi ada juga persahabatan yang berhasil mengalahkan "jarak". Walaupun masing-masing dari mereka memiliki pasangan tapi karena sama-sama memiliki prinsip "jarak" pun tak akan menjadi masalah yang besar.
Fokus kembali ke masalah kehilangan. Ada yang bilang kehilangan itu seperti separuh jiwa kita ikut pergi. Antara rindu dan kehilangan menyatu menjadi satu. Banyak orang yang bahkan malah melakukan hal bodoh ketika mereka kehilangan seseorang. Padahal, seharusnya kita hidup berbahagia. Yaa walau sakit, setidaknya kita tidak boleh menunjukan kesedihan berulang kali. Tetap semangat menghadapi hari-hari. Karena pasti masih banyak orang yang harus kita bahagiakan...
Kamis, 22 Mei 2014
Kepadamu Hujan
Hujan...
Aku ingin bercerita kepadamu.
Pagi tadi aku kembali bertemu dengannya.
Disudut itulah aku kembali mengingat angan tentangnya.
Sebenarnya..
Aku tak ingin berlama-lama mengingatnya.
Tapi sepertinya, ia enggan untuk meninggalkan isi kepalaku.
Hujaann.. Tahukah kamu?
Aku lelah, terus menjadi bayang-bayang yang sekedar melihatnya bahagia.
Aku ingin menjadi salah satu alasan untuk senyumannya..
Hujan...
Jika kamu bisa mengubah keadaan, cobalah ubah.
Aku mohon, sekali saja untuk bisa bersamanya.
Akan aku ubah hidupnya dengan penuh warna dan kasih.
Tapi hujan.. Mungkin semua sudah terlambat.
Bagai debu jalan yang kau hapus habis tanpa jejak, dia pun begitu.
Aku mungkin sudah tak bisa meraihnya.
Bukan pesimis hujan, hanya saja aku tak ingin kembali terjatuh.
Hujan... Kamu tahu?
Dia itu hanya ada dimimpiku.
Disana aku bisa memilikinya, lalu.. Dikehidupan nyata?
Ya, dia kembali menghilang, pergi bersama mimpinya sendiri.
Hujaaann.. Aku rindu dengannya.
Kirimkan salam ku untuknya.
Kabarkan selalu keadaannya.
Karena hanya denganmulah hujan, aku bisa melampiaskan semua rinduku padanya.
Turunlah hujan, sederas apapun..
Agar kau berhasil menghapus rindu yang kerontang ini.
Kepadamu hujan, ku titipkan anganku...
Aku ingin bercerita kepadamu.
Pagi tadi aku kembali bertemu dengannya.
Disudut itulah aku kembali mengingat angan tentangnya.
Sebenarnya..
Aku tak ingin berlama-lama mengingatnya.
Tapi sepertinya, ia enggan untuk meninggalkan isi kepalaku.
Hujaann.. Tahukah kamu?
Aku lelah, terus menjadi bayang-bayang yang sekedar melihatnya bahagia.
Aku ingin menjadi salah satu alasan untuk senyumannya..
Hujan...
Jika kamu bisa mengubah keadaan, cobalah ubah.
Aku mohon, sekali saja untuk bisa bersamanya.
Akan aku ubah hidupnya dengan penuh warna dan kasih.
Tapi hujan.. Mungkin semua sudah terlambat.
Bagai debu jalan yang kau hapus habis tanpa jejak, dia pun begitu.
Aku mungkin sudah tak bisa meraihnya.
Bukan pesimis hujan, hanya saja aku tak ingin kembali terjatuh.
Hujan... Kamu tahu?
Dia itu hanya ada dimimpiku.
Disana aku bisa memilikinya, lalu.. Dikehidupan nyata?
Ya, dia kembali menghilang, pergi bersama mimpinya sendiri.
Hujaaann.. Aku rindu dengannya.
Kirimkan salam ku untuknya.
Kabarkan selalu keadaannya.
Karena hanya denganmulah hujan, aku bisa melampiaskan semua rinduku padanya.
Turunlah hujan, sederas apapun..
Agar kau berhasil menghapus rindu yang kerontang ini.
Kepadamu hujan, ku titipkan anganku...
Senin, 10 Februari 2014
Kepada Kamu, Orang yang Diam-Diam Ia Cintai
Sudah cukup banyak ia bercerita kepadaku. Bercerita tentangmu. Memang tidak semuanya ia ceritakan kepadaku. Tapi, sebagian besar begitulah adanya. Tentang hati yang diam-diam panas menghadapi sikapmu. Tentang harapan yang perlahan sirna karena anganmu. Tentang arti cinta yang tak pernah ada manusia pahami sepenuhnya..
Ia perlahan bercerita hidup dengan anganmu. Tak pernah ia lelah menanti akan hadirmu. Awalnya memang tak suka aku dengan takdirnya. Yang dengan bebasnya mencintai dirimu. Tapi setelah aku pahami, memang benar adanya dialah yang lebih baik untukmu.
Pernah ia tiba-tiba mengatakan, jika kamu bersamaku dia akan ikhlas sepenuhnya. Tapi tidak dengan hatiku. Tiba-tiba saja perasaan ini berganti dengan ikhlas melepasmu..
Sampai saat ini, ia masih suka bercerita denganku. Aku hanya bisa menjadi penengah diantara kalian. Ia bilang, ia beruntung bertemu denganku. Tapi tidak bagiku, akulah yang beruntung bertemu dengannya. Bisa melepas semua perhatianku lewatnya, itu sudah membuatku tenang. Apa lagi saat kamu lelah menghadapi keadaan, aku akan segera kabarkan kepadanya untuk mengatakan kepadamu bahwa hidup tak pernah lelah berharap..
Ketika kamu perlahan bangkit, tak lupa ku kabarkan semua itu kepadanya. Bukan ingin menjadi bayang-bayangmu, hanya saja aku senang memerhatikanmu. Katanya kemarin, aku lebih dewasa dalam menyikapi hidup dibandingnya. Aku hanya bisa tertawa, karena aku bukanlah seperti apa yang ia pikirkan sekarang. Jika dia melihat aku dikenyataan, aku hanyalah perempuan rapuh yang menyedihkan. Tapi sampai saat ini, biar ia mengetahui aku sampai sini saja.
Tugasku sekarang hanya mengabarinya tentangmu. Semua tentangmu yang aku ketahui. Ia tak pernah memaksaku, hanya saja akulah yang rela melakukan itu. Jadi, jika kamu mengetahuinya. Diamlah sebentar saja. Nikmati saja apa yang aku rencanakan. Karena dibalik itu semua pasti ada arti mendalam. Begitulah aku mencintai kamu yang diam-diam dia miliki :)
Terimakasih untuk kehadiranmu dihari-hari kelamku.. Karena kamu adalah dandelion ku, yang entah suatu saat nanti jika sudah masak akan terbawa oleh angin menuju tempat terbaik..
-my dandelion-
Ia perlahan bercerita hidup dengan anganmu. Tak pernah ia lelah menanti akan hadirmu. Awalnya memang tak suka aku dengan takdirnya. Yang dengan bebasnya mencintai dirimu. Tapi setelah aku pahami, memang benar adanya dialah yang lebih baik untukmu.
Pernah ia tiba-tiba mengatakan, jika kamu bersamaku dia akan ikhlas sepenuhnya. Tapi tidak dengan hatiku. Tiba-tiba saja perasaan ini berganti dengan ikhlas melepasmu..
Sampai saat ini, ia masih suka bercerita denganku. Aku hanya bisa menjadi penengah diantara kalian. Ia bilang, ia beruntung bertemu denganku. Tapi tidak bagiku, akulah yang beruntung bertemu dengannya. Bisa melepas semua perhatianku lewatnya, itu sudah membuatku tenang. Apa lagi saat kamu lelah menghadapi keadaan, aku akan segera kabarkan kepadanya untuk mengatakan kepadamu bahwa hidup tak pernah lelah berharap..
Ketika kamu perlahan bangkit, tak lupa ku kabarkan semua itu kepadanya. Bukan ingin menjadi bayang-bayangmu, hanya saja aku senang memerhatikanmu. Katanya kemarin, aku lebih dewasa dalam menyikapi hidup dibandingnya. Aku hanya bisa tertawa, karena aku bukanlah seperti apa yang ia pikirkan sekarang. Jika dia melihat aku dikenyataan, aku hanyalah perempuan rapuh yang menyedihkan. Tapi sampai saat ini, biar ia mengetahui aku sampai sini saja.
Tugasku sekarang hanya mengabarinya tentangmu. Semua tentangmu yang aku ketahui. Ia tak pernah memaksaku, hanya saja akulah yang rela melakukan itu. Jadi, jika kamu mengetahuinya. Diamlah sebentar saja. Nikmati saja apa yang aku rencanakan. Karena dibalik itu semua pasti ada arti mendalam. Begitulah aku mencintai kamu yang diam-diam dia miliki :)
Terimakasih untuk kehadiranmu dihari-hari kelamku.. Karena kamu adalah dandelion ku, yang entah suatu saat nanti jika sudah masak akan terbawa oleh angin menuju tempat terbaik..
-my dandelion-
Sabtu, 08 Februari 2014
Surat Cinta dengan Tinta Emas
Tangerang, 26 Januari 2014
Teruntuk Matahari.
Ada berita cita. Yang aku tulis dengan tinta emas.
Sengaja aku lakukan istimewa.
Agar kau tahu, rasanya indah jika diberlakukan spesial..
Ada berita cinta. Yang aku tulis dengan penuh kata-kata indah.
Sengaja aku rangkai perlahan.
Agar cintamu tersusun rapih diam-diam.
Ada berita duka. Yang aku pendam dalam hati yang terdalam.
Sengaja tak aku utarakan.
Agar kamu tak ikut merasakan.
Ada berita, ada berita..
Yang ingin aku ceritakan semua kepadamu.
Tapi ternyata tak sanggup aku berkata.
Hanya dapat aku torehkan dalam kertas usang ini.
Yang aku ukir dengan tinta warna emas.
Ya, kertas usang ini bagaikan diriku yang tak berharga tanpamu, tinta emas..
Semoga kamu rela meluangkan waktu untuk membaca surat ini.
Salam Cinta,
Rembulan
Rabu, 08 Januari 2014
senin, 6 januari 2014
Mendung. Rintik hujan sepertinya enggan untuk pergi, masih ingin berusaha mengusir awan kelabu yang menggantung disudut-sudut langit kota. Cuaca menjadi begitu dingin, hawa kemalasan pun menghantui. Tapi, saat itu waktu seakan berhenti. Detak jantung seakan tak berbunyi, semua terjadi begitu mustahil tapi nyata. Hmmm.. bagaimana bisa? Mustahil dan nyata adalah dua hal yang saling berlawanan. Tapi kini, aku bisa membuktikannya. Ternyata cuaca mendung tak menghalangi kebahagiaan. Begini kronologinya.
Biasanya kamu yang tak pernah memandangku, peduli akan hadirku. Tiba-tiba saja berubah. Memang sederhana bagimu, begitu berharga bagiku. Hanya mendapat sapaan lembut dan senyum ikhlasmu yang diam-diam membuat aku lupa arti dari kesedihan. Sudah lama aku menanti saat ini. Sudah cukup lama juga aku mencintai senyumanmu. Biarkan rasa ini diam-diam berkembang dihati, biarkan saja. Aku tak ingin kamu ketahui. Cukup melihatmu tersenyum dari jauh, sudah cukup membuat mendung hilang dan berganti datangnya pelangi.
Terimakasih untuk hari itu, aku tidak akan melupakannya.
-my dandelion-
Biasanya kamu yang tak pernah memandangku, peduli akan hadirku. Tiba-tiba saja berubah. Memang sederhana bagimu, begitu berharga bagiku. Hanya mendapat sapaan lembut dan senyum ikhlasmu yang diam-diam membuat aku lupa arti dari kesedihan. Sudah lama aku menanti saat ini. Sudah cukup lama juga aku mencintai senyumanmu. Biarkan rasa ini diam-diam berkembang dihati, biarkan saja. Aku tak ingin kamu ketahui. Cukup melihatmu tersenyum dari jauh, sudah cukup membuat mendung hilang dan berganti datangnya pelangi.
Terimakasih untuk hari itu, aku tidak akan melupakannya.
-my dandelion-
Senin, 30 Desember 2013
Bukan Tentang Cinta
"Kamu pernah gak mikirin perasaan aku?"
Kamu diam.
"Aku gak pernah berharap setiap saat kamu selalu ada. Tapi tolong hargai aku."
Kamu masih terdiam.
"Dulu kalo ada apa-apa pasti cerita. Sekarang? Apa? Untuk berbagi kesedihan aja, sepertinya kamu gak sudi."
"Bukan begitu bil, aku hanya gak mau kamu sedih.."
"Oh, gitu. Jadi, kalo kamu gak mau cerita tentang kebahagiaanmu alasannya karena gak mau lihat aku bahagia? Gitu? Oke, aku mulai ngerti sama kamu sekarang. Ternyata dulu kita bersahabat cuma dibibir saja. Nyatanya hati kita gak akan pernah menyatu!!"
Aku berlari meninggalkan Key yang masih termagu mendengar amarahku.
"Bil, tunggu dulu." Key berlari mengejarku.
"Udah, aku udah tau semuanya Key. Kamu tuuhh!! Arrghh.. Lebih baik kamu pergi saja sama sahabat barumu itu. Gak usah pikirin perasaanku lagi. Okey?"
"Bil..." Key menatapku nanar.
Aku terus berlari menjauh. Tak mau lagi meratapi semua kesalahanmu, kesalahanku, kesalahan kita. Aku mulai mengerti, ternyata memiliki mantan sahabat juga sama menyakitkannya dengan memiliki mantan pacar. Ini memang bukan tentang cinta, tapi tentang menjaga perasaan seorang sahabat. Yeah, perasaan yang hanya diriku sendiri yang tahu.
Kamu diam.
"Aku gak pernah berharap setiap saat kamu selalu ada. Tapi tolong hargai aku."
Kamu masih terdiam.
"Dulu kalo ada apa-apa pasti cerita. Sekarang? Apa? Untuk berbagi kesedihan aja, sepertinya kamu gak sudi."
"Bukan begitu bil, aku hanya gak mau kamu sedih.."
"Oh, gitu. Jadi, kalo kamu gak mau cerita tentang kebahagiaanmu alasannya karena gak mau lihat aku bahagia? Gitu? Oke, aku mulai ngerti sama kamu sekarang. Ternyata dulu kita bersahabat cuma dibibir saja. Nyatanya hati kita gak akan pernah menyatu!!"
Aku berlari meninggalkan Key yang masih termagu mendengar amarahku.
"Bil, tunggu dulu." Key berlari mengejarku.
"Udah, aku udah tau semuanya Key. Kamu tuuhh!! Arrghh.. Lebih baik kamu pergi saja sama sahabat barumu itu. Gak usah pikirin perasaanku lagi. Okey?"
"Bil..." Key menatapku nanar.
Aku terus berlari menjauh. Tak mau lagi meratapi semua kesalahanmu, kesalahanku, kesalahan kita. Aku mulai mengerti, ternyata memiliki mantan sahabat juga sama menyakitkannya dengan memiliki mantan pacar. Ini memang bukan tentang cinta, tapi tentang menjaga perasaan seorang sahabat. Yeah, perasaan yang hanya diriku sendiri yang tahu.
Selasa, 17 Desember 2013
Seringai
Selamat malam, Tuan..
Sudah beberapa hari aku tidak bertemu dirimu. Rindu? Tidak, Tuan. Hanya saja hidup terasa asing tanpa melihat seringaimu. Tak menyangka, sejak awal aku memang tertarik akan seringaimu. Bukan seringai nakal, sebenarnya lebih tepat aku katakan cengiran. Hanya saja, kata itu tak sepadan dengan indahnya. Sebenarnya aku tidak merindukanmu, aku hanya sedang mengenang akan hadirmu. Kelihatannya memang terlalu naif pikiranku ini. Tapi ingatlah selalu Tuan, aku tak akan pernah sekalipun merindukanmu. Catat dan ingat itu baik-baik. Hanya saja, yang baru aku benar-benar sadari. Aku begitu memerlukan hadirmu. Yaa, tertawalah saat ini juga Tuan. Ejeklah aku sepuasmu, karena kamu telah berhasil meremas perasaan ini. Tertawalah Tuan.. Aku begitu bahagia jika melihatmu bahagia.
Selamat malam, Tuan..
Katanya cinta itu buta bukan? Tapi bagi ku tidak begitu. Kamu mau mempercayaiku atau orang lain itu terserahmu.Karena bagiku cinta itu dapat melihat, begitu juga dirasa. Melihat hadirmu, hati ini berdesir hangat. Sekedar melihat ucapan terimakasihmu di hape, bibirku tak hentinya mengguratkan senyum. Perlu bukti lain? Tuan, sadarlah. Seringaimu itu, bagaimana aku bisa jatuh cinta jika tak melihat seringaimu. Tapi cinta bukan hanya soal dilihat, tapi juga dirasa. Merasakan hadirmu.. Merasakan tatapanmu, hangatmu, kilaumu.. Ah, Tuan. Terlalu banyak rasa yang kau tinggalkan untukku. Maaf jika aku terlalu banyak berkata. Karena aku hanya ingin menjabarkan, begitu bahagianya aku telah mengenalmu Tuan..
-my dandelion-
Sudah beberapa hari aku tidak bertemu dirimu. Rindu? Tidak, Tuan. Hanya saja hidup terasa asing tanpa melihat seringaimu. Tak menyangka, sejak awal aku memang tertarik akan seringaimu. Bukan seringai nakal, sebenarnya lebih tepat aku katakan cengiran. Hanya saja, kata itu tak sepadan dengan indahnya. Sebenarnya aku tidak merindukanmu, aku hanya sedang mengenang akan hadirmu. Kelihatannya memang terlalu naif pikiranku ini. Tapi ingatlah selalu Tuan, aku tak akan pernah sekalipun merindukanmu. Catat dan ingat itu baik-baik. Hanya saja, yang baru aku benar-benar sadari. Aku begitu memerlukan hadirmu. Yaa, tertawalah saat ini juga Tuan. Ejeklah aku sepuasmu, karena kamu telah berhasil meremas perasaan ini. Tertawalah Tuan.. Aku begitu bahagia jika melihatmu bahagia.
Selamat malam, Tuan..
Katanya cinta itu buta bukan? Tapi bagi ku tidak begitu. Kamu mau mempercayaiku atau orang lain itu terserahmu.Karena bagiku cinta itu dapat melihat, begitu juga dirasa. Melihat hadirmu, hati ini berdesir hangat. Sekedar melihat ucapan terimakasihmu di hape, bibirku tak hentinya mengguratkan senyum. Perlu bukti lain? Tuan, sadarlah. Seringaimu itu, bagaimana aku bisa jatuh cinta jika tak melihat seringaimu. Tapi cinta bukan hanya soal dilihat, tapi juga dirasa. Merasakan hadirmu.. Merasakan tatapanmu, hangatmu, kilaumu.. Ah, Tuan. Terlalu banyak rasa yang kau tinggalkan untukku. Maaf jika aku terlalu banyak berkata. Karena aku hanya ingin menjabarkan, begitu bahagianya aku telah mengenalmu Tuan..
-my dandelion-
Langganan:
Postingan (Atom)